Tampilkan postingan dengan label KURIKULUM 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KURIKULUM 2013. Tampilkan semua postingan

ON SCREEN KEYBOARD

Cara menampilkan OSK
On Screen Keyboard adalah tampilan keyboard yang bisa difungsikan dengan mouse. Tampilannya adalah seperti gambar di bawah ini.
Kegunaan OSK antara lain adalah :
1. Apabila keyboar sedang bermasalah sehingga tidak berfungsi normal. Maka dengan OSK, pengetikan bisa dilakukan.
2. Untuk penulisan huruf arab yang di keyboard tidak tertulis huruf arabnya maka dengan OSK huruf arab bisa muncul. Huruf arab tersebut letaknya pada tombol keybord menggantikan fungsi sebelumnya. Cara mengubahnya adalah dengan mengubah language pada taskbar.
3. Jika malas menggunakan keyboard, misalnya ketika sedang santai tiduran sehingga enggan untuk mengerakkan tangan menyentuh keybord maka cukup tampilkan OSK. Tapi jika banyak tulisan yang akan diketik maka ini tidak efektif.

Cara menampilkan OSK adalah :
1. Nyalakan PC atau Laptopmu dengan benar.
2. Tekan start program => all program => accecoris => Ease of Access => On-Screen Keyboard.

3. Atau dari Run ketik OSK lalu OK.
Gampang kok, anak kecil aja tau...


OLAH NILAI KURIKULUM 2013

Untuk memudahkan mengolah nilai pada penilaian Kurikulum 2013 yang dikenal sangat menyusahkan silahkan download di sini. Pasword djcom.

PIDATO HARI PAHLAWAN

Kepada Bp./Ibu Guru SDN Sukoharjo 03 yang kami hormati,
Kepada Siswa-siswa SDN Sukoharjo 03 yang semoga senantiasa diberkahi oleh Alloh subhanahu wa ta’ala, selalu diberi kemudahan, kelancaran, dan keberhasilan dalam menuntut ilmu dan menggapai cita-cita.
Alhamdulillah, Alloh masih memberikan kesehatan kepada kita semua sehingga pada kesempatan pagi yang cerah ini,  kita mesih diperkenankan untuk dapat mengikuti dan melaksanakan upacara bendera pada pagi hari ini, Senin, 10 Nopember 2014 dalam keadaan sehat wal’afiat tak kurang suatu apa, amin.
Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘alayhi wa salam beserta paara keluarganya, shahabatnya dan pengikutnya hingga akhir jaman.
Pada upacara kali ini tanggal 10 Nopember 2014, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Oleh karenanya pada upacara kali ini kita juga memperingati Hari Pahlawan yang pada hari ini juga diperingati di sekolah-sekolah, instansi-instansi, ataupun lembaga-lembaga pemerintahan baik dari tingkat Pusat maupun tingkat daerah.
Hari Pahlawan selalu diperingati setiap tanggal 10 Nopember karena pada tanggal tersebut, 69 tahun yang lalu, sebuah peristiwa perang besar telah terjadi di Surabaya. Pada saat itu rakyat Indonesia, khususnya yang berada di Surabaya dan sekitarnya, menunjukkan semangat perlawanan dan pengorbanannya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru diproklamasikan beberapa bulan sebelumnya. Mereka berjuang tidak gentar tidak pula takut pada kematian. Dengan semangat yang membara mereka melawan keswenang-wenangan tentara sekutu yang hendak menduduki bumu pertiwi. Banyak sekali korban jiwa di pihak arek-arek Surabaya yang berjuang melawan sekutu. Kekuatan dan persenjataan yang tidak seimbang menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa. Pejuang-pejuang Surabaya digempur habis-habisan dari darat, laut dan udara.
Hikmah apakah yang dapat kita ambil dari peringatan hari pahlawan ini? Bahwasanya, kita sebagai bangsa Indonesia harus mengenang dan meneladani para pahlawan yang telah berjuang demi hak dan kebenaran, demi mempertahankan kemerdekaan. Kita tidak bisa melakukan yang seperti yang telah para pejuang lakukan, karena keadaan kita sekarang tidak sama dengan keadaan pada masa itu. Walaupun demikian, tentu ada yang dapat kita lakukan sebagai anak bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan kita dari penjajahan bangsa lain. Tentu saja, bentuk penjajahan yang ada pada masa kita berbeda pada masa-masa perjuangan dulu. Akhlaq, norma, atau karakter bangsa kita pada saat ini telah terjajah oleh bangsa asing dengan membajirnya pengaruh asing ke dalam bangsa ini. Norma-norma dan kepribadian bangsa yang luhur telah ditindas dengan norma-norma asing yang tidak sesuai dengan akhlaq dan norma luhur bangsa ini. Banyaknya kejahatan, minum-minuman keras, perzinaan, perilaku-perilaku menyimpang, gaya hidup materialistis yang semuanya itu membawa dampak buruk bagi bangsa ini. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk pengaruh asing yang buruk yang menyerang bangsa kita dan kita tak menyadarinya. Globalisasi telah membawa dampak negatif bagi kita.
Pada saat ini, kita memperingati Hari Pahlawan, maka dengan semangat kepahlawanan yang tinggi, marilah kita membela bangsa ini dari pengaruh-pengaruh buruk dari bangsa lain yang menjajah kita melalui ang

in globalisasi. Kita harus berusaha sekuat tenaga dan fikiran serta potensi yang ada untuk mempertahankan nilai-nilai luhur ataupun akhlaq mulia dari serangan moral-moral buruk dari bangsa lain ataupun dari dalam negeri sendiri. Kita berusaha sesuai dengan kemampuan dan fungsi kita. Sebagai siswa, yang dapa kalian lakukan adalah dengan belajar secara giat, tekun dan taat pada guru dan orang tua. tentu saja ketaatan pada hal-hal dalam kerangka kebaikan dan bukan dalam keburukan, dan yakinlah kalian bahwa guru dan orang tua kalian tidak menginginkan kalian terjerumus dalam keburukan dan kegagalan.

Itulah sedikit hikmah atau amanah yang dapat kita ambil dari peringatan hari pahlawan pada pagi hari ini. Semioga bermanfaat. Billahittaufiq walhidayah.

KRIMINALITAS ANAK SD SALAH SIAPA


Jika kita sering menyaksikan berita di media TV, maka kita akan menjumpai beberapa berita yang memprihatinkan yang terjadi di Indonesia khususnya di dunia pendidikan dasar. Adanya pemerasan pada adik kelas atau temannya dengan ancaman tertentu sehingga anak tersebut harus memberikan sejumlah uang. Pengeroyokan yang berujung pada kematian. Permainan gulat”smack down” yang menelan korban siswa SD. 
Pengeroyokan yang direkam dengana menggunakan HP dan kemudian disebarluaskan. Masih banyak lagi kejadian kriminalitas yang terjadi pada anak SD yang terjadi di sekolah.

Tentunya pemandangan seperti itu menjadi keprihatinan bagi kita semua. Bukan hanya orang tua korban tapi para guru yang mengajar di SD tersebut turut prihatin, dan mungkin semua masyarakat yang peduli dengan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Berbagai ungkapan penyesalan, pertanyaan, bahkan tuduhan dilontarkan kepada pemangku pendidikan di tempat peristiwa tersebut terjadi. Seolah-olah semua itu terjadi karena kasalahan dan kelalaian para guru di sekolah tersebut.

Apakah memang kejadian tersebut disebabkan karena kesalahan guru?
Apakah sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia ada yang salah?
Apakah orang tua pelaku tidak ikut andil mengapa anaknya bisa berbuat kriminal?
Ataukah ada pengaruh dari dunia luar yang meracuni anak bangsa?
Berbagai pertanyaan muncul dan mereka mencari-cari kesalahan pada pihak lain dan menghindar dari kesalahan yang mungkin dituduhkan pada pihaknya.

Tapi yang pasti pihak sekolah (Kepala Sekolah, Guru, dan Karyawan) tidak menginginkan hal itu terjadi, khususnya di lingkungan mereka. Pihak sekolah pun tidak mungkin mengajarkan hal demikian pada anak-anak didiknya. Kesempatan yang memungkinkan terjadinya hal itu pun diminimalisir sedemikian rupa. Sehingga, apabila seluruh hidup siswa selama menuntut ilmu di sekolah itu selalu berada di lingkungan sekolah dan selalu dalam pengawasan pihak sekolah maka hampir bisa dipastikan peristiwa itu tidak mungkin terjadi. Contoh yang nyata adalah yang diterapkan di lingkunga pondok pesantren. Namun kenyataan yang terjadi adalah siswa berada di lingkunag sekolah dan dalam pendidikan guru terbatas dari jam tujuh pagi hingga maksimal jam dua siang. Sangat sedikit jika dibandingkan dengan keberadaan mereka di luar sekolah yaitu di rumah dan lingkungan (komunitas) mereka yang segala pengaruh buruk di luar kontrol sang guru.

Lalu bagaimana dengan keadaan siswa di luar sekolah. Apakah mereka mendapat pengawasan, pendidikan, dan informasi yang tepat? Bagaimana pergaulan mereka? Banyak pertanyaan yang mungkin muncul sehubungan dengan penyebab buruknya karakter siswa. Seberapa baik pendidikan yang diberikan di sekolah jika berbanding terbalik dengan keadaan di lingkungan rumah tangga dan masyarakatnya, maka usaha sebesar apapun yang dilakukan oleh pihak pendidik di lingkungan sekolah akan menjadi sia-sia.


KAMUS BAHASA KOREANG


1.Apa Kabar? = Anyong Aseo
2.Sampai Jumpa = Anyong
3.Kurang Ajar = Monyong
4.Tidak Lurus = Men Chong
5.Pria suka berdandan = Ben Chong
6.Tiba-tiba = She Khonyong Khonyong
7.Gak Punya Duit = Nao Dhong
8.Pengangguran = Nong Krong
9.Belanja = Bao Rhong
10.Merampok = Cho Long
11.Saringan Botol = Choo Rhong
12.Kendaraan Berkuda = An Dhong
13.Jual Mahal = Gheng Xi Dhong
14.Ngelamun = Bae Ngong
15.Mulut = Mon Chong
16.Sosis = Lap Chong
17.Suami dari adiknya Papa = Ku Chong
18.Kiss me = Soon Dhong Yang
19.Sweet memory = Choo Pang Dhong
20.Mobil mogok = Dho Rong Dhong
21.Lapangan luas = Park King Lot
22.Pantat gatal-gatal = Che Bhok Dhong
23.Nasi dibungkus daun pisang = Lon Thong
24.Cowok Cakep Kaca Mata = Bae Yong Jun
25.Cowok Cakep Rambut Lurus = Jang Dong Gun
26.Cowok Cakep Rambut Keriting = Ahn Jung Hwan
27.Bagian belakang = Bho Khong
28.Masih muda = Bron dhong
29.Pantat gatal = Ga ruk dhong
30.Telur asin = Ndok A Chin
34.Sendok Gede = Cen Thong
31.Clana Sobek = Bho Long
32.Kepala Botak = Kin Clong
33.Lagi Menyanyi = Me Lo Lhong
35.Orang Hitam = Goo Shong
36.Bibir Ucup = Mo Nyong
37.Berbulu = Ge Ran Dhong
38.Jongkok Di Pinggir Kali = Be ol Dong

Efektivitas Pendidikan Karakter Butuh Kerja Sama Guru dan Orang Tua

Efektivitas Pendidikan Karakter Butuh Kerja Sama Guru dan Orang Tua

Oleh: Diah Harianti 
KOMPAS.com - Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2012, Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis, pengembangan kurikulum, metodologi pembelajaran, dan perbukuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan nonformal dan pendidikan informal. 

Secara teknis, Puskurbuk melakukan koordinasi kegiatan pendidikan karakter di tingkat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), termasuk koordinasi dengan unit-unit utama. Kemdikbud juga mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum yang sudah ada dengan kegiatan-kegiatan penguatan pendidikan karakter dan penyusunan buku panduannya.

Ada beberapa strategi yang dilakukan Kemdikbud untuk penguatan pelaksanaan pendidikan karakter, yaitu dengan memperkuat panduan bagaimana melaksanakannya (pendidikan karakter), lalu mengakomodasi lembaga yang sudah melaksanakan pendidikan karakter walaupun dengan nama yang berbeda-beda. Ketiga, menguatkan kegiatan yang sudah ada di sekolah, disamping Kemdikbud tetap melakukan koordinasi menyeluruh.  

Sejak 2011, Puskurbuk sudah mengidentifikasi berbagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan unit-unit utama untuk pendidikan karakter. Pada umumnya, mereka lebih ke menyosialisasikan dokumen-dokumen pendidikan karakter dan bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter itu dalam kurikulum. 

Berdasarkan hasil monitoring, hampir 100 persen sekolah di kabupaten/kota maupun provinsi sudah mengetahui pentingnya penerapan pendidikan karakter. Artinya, sosialisasi yang dilakukan oleh Pusat sudah berhasil. Keberhasilan itu juga didukung oleh unit-unit utama yang disetiap kegiatan mereka yang melibatkan banyak peserta dari seluruh Indonesia, seperti pelatihan atau sosialisasi hal lainnya, selalu menyisipkan waktu untuk sosialisasi pendidikan karakter. Jadi, sosialisasi pendidikan karakter sudah cukup masif.  

Nah, bagaimana pelaksanaannya di sekolah pada saat ini? Mengingat konsep dasarnya mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum, maka tidak ada penambahan mata pelajaran. Semua guru, kepala sekolah maupun tenaga pendidikan yang lain bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah masing-masing. Jadi, nilai-nilai dalam pendidikan karakter diintegrasikan dalam mata pelajaran atau pembiasaan-pembiasaan dengan beragam cara yang tepat. 

Untuk kedisiplinan, misalnya. Anak diharuskan mengerjakan PR, datang tepat waktu, tidak menyontek, dan sebagainya. Di samping itu, kepala sekolah juga harus bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatan yang kita sebut sebagai pembudayaan sekolah. Seperti, menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan toilet dengan benar, penyediaan tempat sampah dan pembiasaan anak-anak membuang sampah pada tempatnya, termasuk membiasanya budaya bersih-rapi-nyaman-disiplin-sopan santun. 

Saat ini, Pemerintah Pusat telah menunjuk 300 sekolah di 33 provinsi dan 44 kabupaten/kota yang dijadikan sekolah perintis pendidikan karakter. Sekolah perintis tersebut terdiri dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, PLB, dan PKBM. 

Pusat juga sudah bekerja sama dengan Dikti untuk pendidikan karakter di perguruan tinggi. Adapun pendidikan karakter di tingkat pendidikan tinggi agak berbeda dengan pendidikan dasar dan menengah. Meskipun penerapannya tidak terlalu berbeda, tetapi strateginya harus berbeda mengingat mahasiswanya dinilai sudah dewasa. Ada juga yang dimasukkan untuk mata kuliah tertentu, seperti bela negara. 

Pemerintah memunculkan gerakan pendidikan karakter tentu setelah melalui pertimbangan matang berdasarkan kajian mendalam. Di tengah masyarakat terdapat anggapan, bahwa hasil pendidikan hanya melahirkan anak pintar, namun berperilaku tidak sopan, tidak peduli, kurang cinta pada tanah air, dan cenderung radikal. Dengan begitu, pembelajaran di sekolah dianggap lebih menekankan pada aspek kognitif. 

Sekolah juga dinilai kurang menekankan siswa pada sikap untuk berbuat baik. Oleh karena itulah pemerintah mencanangkan gerakan pendidikan berbasis karakter dengan harapan bahwa peserta didik tidak hanya memiliki pengetahuan tetapi juga memiliki sikap dan nilai-nilai yang baik.

Kajian lapangan 

Bertujuan melihat perkembangan pendidikan karakter di sekolah, Kemdikbud telah melakukan kajian lapangan di berbagai jenis sekolah, termasuk sekolah yang kurang bagus. Bahkan, di Jakarta ada sebuah SMP yang muridnya dari golongan ekonomi bawah dan berlokasi dekat tempat pembuangan akhir sampah. 

Namun demikian, kepala sekolah mempunyai tekad kuat untuk membentuk  anak didiknya mempunyai karakter yang bagus, seperti disiplin, bersih, dan sebagainya. Ternyata, semua itu berhasil.  

Pemilihan sekolah sebagai perintis pendidikan karakter diserahkan kepada dinas masing-masing. Di daerah piloting, sosialisasi ditujukan kepada seluruh warga sekolah, termasuk kepala sekolah, guru, murid, dan tenaga kependidikan. Kepala sekolah berperan sebagai pemimpin dalam pendidikan karakter ini, sehingga kepala sekolah yang harus selalu mengingatkan. 

Jadi, kunci keberhasilan pendidikan karakter itu ada di karakter kepala sekolah. Kalau dia berniat berubah menjadi yang lebih baik, maka seterusnya akan menularkan perilaku baik bagi guru-guru dan murid-muridnya. 

Prinsipnya, tentu dimulai dari diri sendiri, diawali dari yang mudah, dan dilakukan saat ini juga. Misalnya, datang tepat waktu. Itu dulu yang dilakukan sebagai contoh. Jika tidak dilakukan, hanya akan menjadi konsep saja. 

Diimplementasikan di sekolah, Kemdikbud tidak menginginkan pendidikan karakter dinilai sama dengan mata pelajaran lainnya. Tentu saja, karena ini menyangkut pengembangan sikap, nilai, dan pembiasaan. Namun, Kemdikbud mengharapkan guru bisa mengamati anak itu. 

Kemdikbud tidak mempermasalahkan penilainya. Hal terpenting adalah, lingkungan sekolah, baik murid, guru, dan tenaga kependidikannya, menjadi lebih baik karena menerapkan pendidikan karakter.  

Hasil dari pendidikan karakter tidak dapat dirasakan atau dilihat seketika, karena hal ini memerlukan waktu  lama. Penerapan pendidikan karakter memerlukan kerja sama berbagai pihak dan juga memerlukan contoh dari pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua. Setidaknya, ada koordinasi antara sekolah dengan orang tua, misalnya melalui momen mengambil rapor, atau buku penghubung. Jika kerja sama antara yang di sekolah dengan yang di rumah sudah terjalan baik, nanti hasilnya akan menjadi lebih baik lagi.  

Melihat pendidikan karakter amat penting dalam kehidupan anak didik, orang tua hendaknya jangan hanya ngotot putranya lulus ujian nasional (UN) dengan nilai bagus. Para orang tua hendaknya juga berharap putranya memiliki moral dan perilaku lebih baik, cerdas dan berhati mulia. 

Demikianlah kitanya generasi emas dambaan. Kita menaruh harapan besar pada generasi seperti ini dalam kehidupan bernegara dan berbangsa pada masa mendatang. Semoga harapan ini terwujud. (ARIFAH/RATIH)  

Penulis adalah Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud

Hukuman Mendidik Menjaga Motivasi Belajar

Hukuman Mendidik Menjaga Motivasi Belajar

oleh: Toha Nasruddin -

Siang terasa terik, panas matahari terasa perih membakar kulit, beberapa anak terlihat berjejer di depan sebuah kelas, menghadap ke tiang bendera. Sesekali mereka mengusap keringat yang mengucur membasahi wajah.

"Anak-anak malas, selalu ada alasan tak mengerjakan PR" kata seorang rekan yang baru saja keluar dari kelas yang ada dibelakang anak-anak malang tadi.

Sebagai seorang guru, sudah sewajarnya mafhum akan pentingnya motivasi belajar dalam kegiatan belajar mengajar. Guru sebagai fasilitator proses belajar mengajar amat perlu mempertahankan semangat belajar siswa. Terbukti siswa hanya akan giat belajar jika mereka termotivasi untuk belajar. Dengan demikian maka guru perlu mengenal cara-cara untuk memotivasi belajar siswa agar pembelajaran tetap berlangsung seperti yang diinginkan guru.

Begitu pula dengan pemberian tugas semisal PR, tugas sebisa mungkin jangan membebani siswa diluar batas kemampuannya. Tugas yang terlalu memberatkan justru melemahkan motivasi siswa untuk menyelesaikannya, akhirnya siswa memilih untuk tidak mengerjakan tugas tersebut. Menghadapi siswa yang tak mengerjakan PR terkadang pendidik cepat tersulut emosi, sehingga terburu-buru memutuskan bentuk hukuman. Hukuman yang paling lazim adalah dijemur menghormat bendera, berlari keliling lapangan, push up atau menghukum siswa berdiri di depan kelas sepanjang jam pelajaran berlangsung. Hukuman yang hanya bersifat fisik jauh dari kesan mendidik, hukuman seperti ini harus dijauhi oleh guru.

Sebagai lembaga pendidikan, maka semua proses didalamnya haruslah mengandung unsur mendidik, sekolah bukan lembaga peradilan yang bertugas memberi hukuman pada siswa yang divonis bersalah. Oleh karena itu segala sesuatu yang dilakukan oleh sekolah haruslah dimaknai sebagai bagian dari proses pendidikan, termasuk didalamnya ketika harus memberikan sanksi pada peserta didik yang melanggar.

Bagaimanapun juga siswa yang bersalah harus tetap diberi sanksi supaya menimbulkan efek jera, baik bagi siswa bersangkutan ataupun siswa lainnya. Oleh karena itu, memberi hukuman yang mendidik bukanlah hal yang sederhana. Disatu sisi, hukuman harus ‘membebani’ agar menjadi efek jera, tapi disisi lain harus tetap memiliki muatan pendidikan.

Bentuk hukuman yang paling sering dilakukan adalah dengan cara memberi teguran. Cara ini dirasa lebih baik jika dibanding dengan kecaman, bentakan ataupun sindiran, selain itu cara ini juga lebih mendidik. Celaan terhadap siswa harus dihindari oleh guru, karena memungkinkan akan menerbitkan rasa putus asa siswa sehingga membunuh motivasi belajarnya.

Cara lain yang bisa digunakan adalah dengan memberi penugasan, hukuman ini dapat menjadi alternatif bagi siswa yang tidak mengerjakan PR, lupa membawa buku tugas, perbaikan nilai setelah remidi lebih dari 2 kali dan sebagainya. Penugasan pun harus diberikan dengan banyak variasi, hal ini untuk menghindari kebosanan siswa terhadap tugas yang diberikan. Intensitas tugas juga harus menjadi perhatian, jangan terlalu sering, jangan pula terlalu jarang.

Bentuk hukuman lain yang dapat digunakan adalah ‘menulis’. Daripada meminta siswa menulis satu kalimat secara berulang-ulang, rasanya lebih bermanfaat jika guru meminta siswa membaca buku diperpustakaan dan mengumpulkan resensinya, mencari informasi tertentu di internet, membuat kliping tentang suatu tema dari Koran atau majalah dsb.

Hukuman yang baik juga tak boleh mempermalukan harga diri siswa yang membuat kesalahan. Hukuman yang mempermalukan siswa jika tak terkelola akan menyulut dendam yang justru berpotensi membuat siswa melakukan kesalahan yang lebih besar.

Jadi dalam pembelajaran di kelas guru dapat memberikan hukuman yang mendidik kepada siswa supaya selain membuat efek jera tetapi juga siswa mendapatkan manfaat positif dari hukuman tersebut, sehingga dapat lebih meningkatkan motivasi belajar dan nantinya meningkatkan juga hasil belajar.

Akan tetapi, jika kesalahan siswa dapat diperbaiki tanpa hukuman tentu akan lebih baik, karena tujuan utama memberi sanksi adalah agar siswa tak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Namun yang pasti, jika harus dihukum, apapun bentuknya hukuman tak boleh mematikan motivasi belajar siswa.

(Penulis adalah seorang Guru SMPN 1 Cibeber, Cianjur)

Blog: www.kelas-sains.com - See more at: http://www.kesekolah.com/solusi-pendidikan/hukuman-mendidik-menjaga-motivasi-belajar.html#sthash.MeaaK8It.dpuf

PRAMUKA DALAM KURIKULUM 2013

Pada kurikulum 2013, kegiatan ekstrakurikuler Praja Muda Karana, atau biasa akrab disebut Pramuka, akan menjadi kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) wajib bagi peserta didik di Sekolah Dasar. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menjelaskan, Pramuka bukan menjadi mata pelajaran wajib, melainkan tetap menjadi kegiatan ekstrakurikuler.
“Komposisi proses pembelajaran kan ada intrakurikuler dan ekstrakurikuler,” katanya kepada wartawan usai penandatangan Nota Kesepahaman dengan Dewan Mesjid Indonesia di Gedung A Kemdikbud, Selasa (20/11).
Menteri Nuh mengatakan, setidaknya ada dua hal yang menjadi alasan dalam menjadikan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib. “Pertama, dasar legalitasnya jelas. Ada undang-undangnya,” ujarnya. Undang-undang yang dimaksud adalah UU Nomor 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.
Alasan kedua, Pramuka mengajarkan banyak nilai, mulai dari kepemimpinan, kebersamaan, sosial, kecintaan alam, hingga kemandirian. “Dari sisi organisasinya juga sudah proven. Jadi, kami sarankan ekstra yang satu ini wajib di semua level, terutama untuk siswa SD/ MI,” ucapnya.
Rencana ini masih akan dimatangkan dengan melibatkan pihak lain. Mendikbud menuturkan, akan ada segitiga yang akan terlibat dalam pematangan konsep Pramuka menjadi ekskul wajib, yaitu segitiga antara Kemdikbud, Kemenpora, dan Kwartir Nasional (Kwarnas) Pramuka.
Beberapa hal yang akan dilakukan untuk mendukung Pramuka sebagai ekskul wajib di kurikulum 2013antara lain melakukan penataran untuk guru-guru pengajar Pramuka. Bahkan rencananya, guru pengajar Pramuka bisa mendapat kredit poin dan bisa masuk dalam penghitungan jam mengajar profesi guru. Selain itu juga akan dilakukan revitalisasi organisasi di tiap sekolah, serta dukungan pendanaan dari Kemdikbud.

Pengertian Keterampilan Membuka Pelajaran

Pengertian Keterampilan Membuka Pelajaran



Pengertian Keterampilan Membuka Pelajaran 282x300 Pengertian Keterampilan Membuka PelajaranGuru yang berhasil dalam membuka pelajaran adalah guru yang bukan hanya sekedar memberitahu siswa apa yang akan mereka lakukan, namun menemukan cara untuk memancing minat dan antusiasme siswa sehingga mereka sangat ingin terlibat dalam pelajaran. Aktivitas ini disebut set induction[1].  Sebutan lain untuk istilah ini adalah anticipatory set [2], hook, intro,induction, stage setting,[3] dan  cognitive set [4].  Set induction merupakan salah satu keterampilan mengajar yang harus dikuasai oleh guru, dan dapat dilatih melalui microteaching.
Set induction terdiri atas dua penggalan kata, yaitu set  dan induction. Setdidefinisikan sebagai kondisi sementara, tetapi sering berulang, dari orang yang (a) mengarahkan dirinya ke arah rangsangan lingkungan tertentu atau peristiwa tertentu, dan (b) memfasilitasi kegiatan tertentu atau memberikan respon kepada orang lain. Induction berarti pengantar.  Induction berkaitan dengan perkataan dan/atau perbuatan sebelum situasi belajar, yang mengarahkan perhatian siswa terhadap tugas pelajaran.[5]
Set induction telah didefinisikan secara beragam. Namun demikian tema sentral dan kekuatan utama dari set induction  adalah  proses mempersiapkan siswa untuk mengiktui kegiatan pembelajaran,[6] atau proses mengenalkan pelajaran pada siswa,[7] atau cara memasarkan pelajaran di kelas kepada siswa.[8] Berikut ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai pengertian keterampilan membuka pelajaran atau set induction.
  1. Set induction adalah kegiatan di awal pelajaran untuk mendapatkan perhatian penuh siswa, membangkitkan minat mereka, dan untuk membentuk suatu kerangka kerja konseptual.[9]
  2. Set induction merupakan istilah yang  merujuk pada proses orientasi siswa terhadap aktivitas yang mereka akan lakukan selama pelajaran, dan mengapa itu penting.[10]
  3. Menurut perspektif psikologis, set induction adalah istilah yang menggambarkan apa yang terjadi ketika organisme disiapkan setiap saat untuk menerima dan merespon setiap stimulus (Woodworth dan Marquis). Set induction berkaitan dengan aktivitas memantapkan kesiapan individu, mendapatkan perhatian, membangkitkan motivasi, dan memberikan pedoman tentang apa yang harus diikuti.[11]
  4. Pada dasarnya set induction dapat berupa tindakan atau pernyataan guru yang dirancang untuk menghubungkan konten baru dari pelajaran dengan pengalaman umum dari para siswa. Oleh karena itu set induction dapat dianggap sebagai sebuah jembatan antara materi pelajaran yang sudah dikuasai siswa dengan materi pelajaran yang akan diajarkan. Set inductionmerupakan upaya untuk: (a) memfokuskan perhatian siswa  pada pelajaran; (b) menciptakan frame work untuk ide-ide, prinsip-prinsip atau informasi yang akan disampaikan; (c) memperluas pemahaman siswa dan/atau penerapan ide abstrak melalui contoh dan analogi; dan (d) merangsang minat dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.[12]
  5. Set induction adalah teknik pendidikan yang digunakan guru untuk membantu siswa mengingat informasi yang telah lalu dan menyiapkan siswa agar dapat berpikir untuk memproses informasi baru dalam pembelajaran. Set induction dapat dianalogikan dengan pemberian aba-aba kepada pelari sebagai peringatan bahwa balapan akan dimulai.  Terdapat dua kegiatan utama dalam membuka pembelajaran yaitu menarik perhatian siswa dan menggambarkan organisasi materi pelajaran (peta konsep) untuk mengetahui latar belakang pengetahuan yang sudah dimiliki siswa.[13]
  6. Set induction, adalah upaya yang dilakukan guru untuk mendapatkan perhatian penuh siswa, membangkitkan minat mereka, dan untuk membangun konseptual frame work  materi pelajaran.[14]
Set induction yang efektif mungkin lebih sulit bagi guru yang memiliki kelas paralel, karena guru mengajar begitu banyak kelas dalam sehari pada topik yang sama. Setelah mengajar dua atau tiga kelas berturut-turut, guru siap untuk melanjutkan pelajaran daripada mencoba untuk merangsang minat siswa.  Perlu diingat bahwa pelajaran bagi siswa merupakan sesuatu yang baru, tidak peduli berapa kali guru mengajarkan materi yang sama.[15]
Referensi:
  • [1] Graham, G. (2008). Teaching Children Physical Education: Becoming a Master Teacher. USA: Human Kinetics, h. 72
  • [2] Virgilio, SJ. (2012).  Fitness Education for Children: A Team Approach. United States: Human Kinetics, h. 77
  • [3] Nath , JL., Cohen, M. (2011). Becoming an EC-6 Teacher in Texas: A Course of Study for the Pedagogy and Professional Responsibilities (Ppr) Texes. USA: Cengage Learning, h. 100
  • [4] Graham, G. (2008). Op. Cit., h. 72
  • [5] Cohen, L., et.al. (2002). A Guide to Teaching Practice.  USA:  Simultaneously Published., h. 193
  • [6] Hargie, O., et al. (2011). Skilled Interpersonal Communication: Research, Theory and Practice. New York USA:  Simultaneously Published, h. 279
  • [7] Mahndiratta, M. (1997). Ency. Dictionary Of Education (3 Vol). New Delhi: Sarup & Sons., h. 915
  • [8] Graham, G. (2008)., Op. Cit., h. 72
  • [9] Hansen., J.,  Moore, KD., (2012). Effective Strategies for Teaching in K-8 Classrooms. California: SAGE Publications Inc., h. 141
  • [10] Bailey, R. (2001). Teaching Physical Education. London: Routledge, h. 29
  • [11] Hargie, O., et al. (2011). Op.Cit.,h. 279
  • [12] Rossel, S. (1998). Managing the Jewish Classroom: How to Transform Yourself Into a Master Teacher.  USA: Torah Aura Productions, h. 47
  • [13] Osmer, RR. (1992). Teaching for Faith: A Guide for Teachers of Adult Classes. Kentucky: Published by Westminster/John Knox Press Louisville, h. 54
  • [14] Moore, KD. (2005).  Effective Instructional Strategies: From Theory to  Practice. California: Sage Publications, Inc., h. 137-138
  • [15] Graham, G. (2008), Op. Cit., h. 73
Sumber Gambar: http://www.permaculturenews.org [18 Oktober 2013]

Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran

Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran



Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran 300x188 Pendekatan Saintifik dalam PembelajaranEsensi Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran

Pendekatan saintifik (scientific) disebut juga sebagai pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Karena itu Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum.
Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan menguji hipotesis.
Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional, retensi informasi dari guru sebesar 10 persensetelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen.

Kaidah-kaidah Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran

Penggunaan Pendekatan saintifik dalam pembelajaran  harus dipandu dengan kaida-kaidah pendekatan ilmiah. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini.
Pertama: Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
  • Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
  • Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.
  • Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran.
  • Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran.
  • Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapatdipertanggung-jawabkan.
  • Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana, jelas, dan menarik sistem penyajiannya.
Kedua: Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah yang meliputi intuisi, akal sehat, prasangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis.
  • Intuisi. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. Intuisi juga bermakna kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang atas dasar pengalaman dan kecakapannya. Istilah ini sering juga dipahami sebagai penilaian terhadap sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara cepat dan berjalan dengan sendirinya. Kemampuan intuitif itu biasanya didapat secara cepat tanpa melalui proses panjang dan tanpa disadari. Namun demikian, intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik.
  • Akal sehat. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran, karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang benar. Namun demikian, jika guru dan peserta didik hanya semata-mata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkanmereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.
  • Prasangka. Sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan seseorang (guru, peserta didik, dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya. Ketika akal sehat terlalu kuat didomplengi kepentingan pelakunya, seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas.  Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting, jika diolah secara baik. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya, jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik.
  • Penemuan coba-coba.  Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. Namun demikian, keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol, tidak memiliki kepastian, dan tidak bersistematika baku. Tentu saja, tindakan coba-coba itu ada manfaatnya bahkan mampu mendorong kreatifitas.Karena itu, kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan, harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan, sampai dengan menemukan kepastian jawaban.  Misalnya, seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop, tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya, hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang  seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala.
  • Asal Berpikir Kritis.  Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang, khususnya mereka yang normal hingga jenius. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang. Tentu saja hasil pemikirannya itu tidak semuanya benar, karena bukan berdasarkan hasil esperimen yang valid dan reliabel, karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata.

Metode Tematik Integratif

Rencana pendekatan kurikulum 2013 untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan sederajat, menggunakan metode tematik integratif. Artinya, materi ajar tidak disampaikan berdasarkan mata pelajaran tertentu, melainkan dalam bentuk tema-tema yang mengintegrasikan seluruh mata pelajaran.
Metode ini sebenarnya sudah diterapkan di banyak sekolah. Karena dinilai berhasil, pemerintah lalu mengadopsi dan berencana menerapkannya secara nasional.
Hal itu dikemukakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh saat, melakukan uji publik Pengembangan Kurikulum 2013, Sabtu (8/12/2012), di kampus Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. "Metode ini bukan sesuatu yang baru," ujarnya.
Hadir pada acara itu, Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, dan 500 peserta yang terdiri atas pakar, praktisi, dan pengamat pendidikan, asosiasi profesi, penyelenggara pendidikan, dosen, pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru.
Dengan metode ini, kata Nuh, siswa diajak untuk berpikir secara terpadu. Misalnya, dalam tema 'diriku' untuk kelas satu SD. Siswa dikenalkan siapa dan seperti apa dia. Di situ terdapat karakter jujur, tertib, disiplin, dan bersih termasuk cinta lingkungan.
"Dari tema ini, ada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, Matematika, dan IPA. Anak bisa melihat sesuatu yang utuh," ujarnya.
Contoh lain adalah tentang air yang mengalir dapat menjadi generator untuk menghasilkan listrik (IPA). Nyala listrik dapat menerangi rumah-rumah, sehingga kehidupan sosial lebih bagus (IPS).
"Itu pelajaran yang menarik, karena cerita tentang kehidupan keseharian," kata Nuh.
Pada kesempatan itu, Nuh juga memaparkan elemen perubahan kurikulum untuk jenjang SD secara umum adalah holistik integratif berfokus pada alam, sosial, dan budaya. Pembelajaran menggunakan pendekatan sains.
Perubahan lain adalah jumlah mata pelajaran dikurangi dari 10 menjadi enam. Kemudian, dengan adanya perubahan pendekatan pembelajaran, maka ada penambahan sebanyak empat jam pelajaran per minggu.
Sumber:edukasi.kompas.com

PEMBELAJARAN TEMATIK INTEGRATED KURIKULUM 2013

PEMBELAJARAN TEMATIK INTEGRATED
KURIKULUM 2013

A. Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri. Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

B. Cara Anak Belajar
Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu system konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat. Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
1. Konkrit
Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
2. Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.
3. Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .
C. Belajar dan Pembelajaran Bermakna
Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan Menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya. Belajar bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara
harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan. Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan.
D. Pengertian Pembelajaran Tematik
Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awl SD sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
1) Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;

7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.